RSS

Tugas UAS Bahasa Indonesia

Puasa-kerja-tetap-semangat-gambar-kata bulan puasa bukan alasan buat malas-malasan, ya kan sobat bloger?? :D , nah maka dari itu dengan datangnya bulan puasa yang penuh rahmat ini, kebetulan di kampus juga lagi banyak-banyaknya tugas, dan salah satunya tugas matakuliah bahasa indonesia tentang “JURNAL”, untuk itu saya coba kasi contoh salah satu jurnal, langsung aja deh kita lihat contohnya gimana cekidot :D :D -lanjut baca?

 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2013 in Uncategorized

 

Syarat-Syarat Pengembangan Paragraf

Syarat-syarat Pembentukan dan Pengembangan Paragraf

Dalam pembentukan/pengembangan paragraf,ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan, diantranya:

1. Kesatuan

Fungsi paragraf adalah untuk mengembangkan gagasan pokok tersebut. Untuk itu, di dalam pengembangannya, uraian-uraian dalam sebuah paragraf tidak boleh menyimpang dari gagasan pokok tersebut. Dengan kata lain, uraian-uraian dalam sebuah paragraf diikat oleh satu gagasan pokok dan merupakan satu kesatuan. Semua kalimat yang terdapat dalam sebuah paragraf harus terfokus pada gagasan pokok.

2. Kepaduan

Sebuah paragraf bukanlah sekedar kumpulan kalimat-kalimat yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Urutan pikiran yang teratur akan memperlihatkan adanya kepaduan, dan pembaca pun dapat dengan mudah memahami/mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya perloncatan pikiran yang membingungkan.

Kata atau frase transisi yang dapat dipakai dalam karangan ilmiah sekaligus sebagai penanda hubungan dapat dirinci sebagai berikut.

Hubungan yang menandakan tambahan kepada sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya, misalnya: lebih-lebih lagi, tambahan, selanjutnya, di samping itu, lalu, seperti halnya dll
Hubungan yang menyatakan perbandingan, misalnya: lain halnya, seperti, meskipun dll
Hubungan yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya; misalnya: tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, sebaliknya dll
Hubungan yang menyatakan akibat/hasil; misal: sebab itu, oleh sebab itu, karena itu, jadi dll
Hubungan yang menyatakan tujuan, misalnya: sementara itu, segera, kemudian dll
Hubungan yang menyatakan singkatan, misal: ringkasnya, misalnya, yakni, sesungguhnya dll
Hubungan yang menyatakan tempat, misalnya: di sana, dekat, di seberang dll
3. Kelengkapan

Suatu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik/gagasan utama.

Letak Kalimat Topik dalam Sebuah Paragraf

Sebuah paragraf dibangun dari beberapa kalimat yang saling menunjang dan hanya mengandung satu gagasan pokok saja. Gagasan pokok itu dituangkan ke dalam kalimat topik / kalimat pokok. Kalimat topik/kalimat pokok dalam sebuah paragraf dapat diletakkan, di akhir di awal, di awal dan akhir, atau dalam seluruh paragraf itu.

Pengembangan Paragraf.

Salah satu cara berlatih mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan membuat kerangka paragraf dahulu sebelum menulis paragraf itu.

Secara ringkas, pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit dikembangkan, jangan pula terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar). Kedua, tempatkanlah kalimat topik tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas dalam sebuah paragraf. Ketiga, dukunglah kalimat topik tersebut dengan detail-detail/ perincian-perincian yang tepat. Keempat gunakan kata-kata transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di antara paragraf.

Paragraf Berdasarkan Teknik Pengembangannya

1. Secara Alamiah

Dalam teknik ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek/kejadian yang dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan, yaitu:

- urutan ruang (spasial), membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya yang berdekatan dalam sebuah ruang. Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, dari bawah ke atas, dan sebagainya;

- urutan waktu (kronologis), menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.

2. Klimaks dan Antiklimaks

Gagasan utama mula-mula dirinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga gagasan yang paling tinggi kedudukan/kepentingannya.

3. Umum – Khusus & Khusus – Umum (deduktif & induktif)

Cara pengungkapan paragraf yang paling banyak digunakan adalah cara deduktif dan induktif. Berikut ini secara urut akan disajikan contoh paragraf yang dikembangkan dengan cara deduktif dan induktif.

 
Leave a comment

Posted by on July 12, 2013 in Uncategorized

 

Paragraf

Paragraf (dari Bahasa Yunani paragraphos, “menulis di samping” atau “tertulis di samping”) adalah suatu jenis tulisan yang memiliki tujuan atau ide. Awal paragraf ditandai dengan masuknya ke baris baru. Terkadang baris pertama dimasukkan; kadang-kadang dimasukkan tanpa memulai baris baru. Dalam beberapa hal awal paragraf telah ditandai oleh pilcrow (¶).

Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraph, perlu diperhatikan kesatuan dan kepaduan. Kesatuan berarti seluruh kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan (gagasan pokok) yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut mulai dari kalimat pengenal, kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup saling berkaitan mendukung gagasan tunggal paragraf. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Paragraf dapat juga dikatakan sebagai sebuah karangan yang paling pendek (singkat).

Kegunaan Paragraf

Paragraf diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari sudut pandang komposisi, pembicaraan tentang paragraf sebenarnya ssudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab formal yang sederhana boleh saja hanya terdiri dari satu paragraf.
Paragraf digunakan untuk menandai pembukaan topik baru, atau pengembangan lebih lanjut topik sebelumnya (yang baru).
Macam – Macam Paragraf

Berdasarkan perannya, paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

Paragraf pembuka
Memiliki peran sebagai pengantar bagi pembaca untuk sampai pada masalah yang akan diuraikan oleh penulis. Untuk itu, paragraf pembuka harus dapat menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup mempersiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan. Paragraf pembuka juga berfungsi untuk menjelaskan tujuan dari penulisan itu.

Paragraf penghubung
Berfungsi menguraikan masalah yang akan dibahas. Secara kuantitatif paragraf ini merupakan paragraf yang paling panjang dalam keseluruhan karangan/tulisan. Uraian dalam paragraf penghubung ini, antar kalimat maupun antar paragraf harus saling berhubungan secara logis.

Paragraf penutup
Bertujuan untuk mengakhiri sebuah karangan/tulisan. Paragraf ini bisa berisi tentang kesimpulan masalah yang telah dibahas dalam paragraf penghubung, atau bisa juga berupa penegasan kembali hal-hal yang dianggap penting dalam uraian-uraian sebelumnya

Berdasarkan fungsinya, paragraf dapat dibedakan menjadi lima, yaitu:

Eksposisi
Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi.

Contoh:

Para pedagang daging sapi di pasar-pasar tradisional mengeluhkan dampak pemberitaan mengenai impor daging ilegal. Sebab, hampir seminggu terakhir mereka kehilangan pembeli sampai 70 persen. Sebaliknya, permintaan terhadap daging ayam dan telur kini melejit sehingga harganya meningkat.

Argumentasi
Bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat / kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/ bukti.

Contoh:

Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan itu pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampa, kemudian diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga.

Deskripsi
Berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut.

Contoh:

Gadis itu menatap Doni dengan seksama. Hati Doni memuji gadis yang mempesona di hadapanya. Gadis didepannya itu sangat cantik. Rambutnya hitam lurus hingga melewati garis pinggang. Matanya bersinar lembut dan dalam, memberikan pijar yang misterius. Ditambah kulitnya yang bersih, dagu lancip yang menawan,serta bibir berbelah, dia sungguh tampak sempurna.

Persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu.

Contoh:

Dalam diri setiap bangsa Indonesia harus tertanam nilai cinta terhadap sesama manusia sebagai cerminan rasa kemanusiaan dan keadilan. Nilai-nilai tersebut adalah mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya, mengembangkan sikap tenggang rasa dan nilai-nilai kemanusiaan, mengembangkan sikap tolong-menolong. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat dipenuhi oleh suasana kemanusian dan saling mencintai.

Narasi
Karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.

Contoh:

Jam istirahat. Roy tengah menulis sesuatu di buku agenda sambil menikmati bekal dari rumah. Sesekali kepalanya menengadah ke langit-langit perpustakaan, mengernyitakan kening,tersenyum dan kembali menulis. Asyik sekali,seakan diruang perpustakaan hanya ada dia.

Berdasarkan tujuannya, paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

Paragraf pembuka
Paragraf pembuka biasanya memiliki sifat ringkas menarik, bertugas menyiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan. Dalam karangan ilmiah, paragraf pembuka berupa:

garis besar karangan dengan menonjolkan bagian yang dipandang penting
pemaparan isi dan maksud judul karangan
kutipan pendapat pakar pada bidang ilmu yang bersangkutan
sitiran dari suatu pendapat
pembatasan objek dan subjeknya
pemaparan arti penting masalah yang akan dibicarakan
gabungan dari beberapa cara di atas.
Paragraf penghubung
Paragraf penghubung berisi inti masalah yang hendak disampaikan. Ada beberapa pola penyusunan kalimat yang menjadi sebuah paragraf isi yang dapat dijadikan pedoman, yaitu :

Pola Urutan Waktu
Dalam pola urutan waktu, penulis mengungkapkan gagasan-gagasannya secara kronologis.

Pola Runtutan Tingkat
Dalam pola urutan tingkat, penulis mengungkapkan gagasan mulai dari tingkat terendah sampai dengan yang tertinggi, dari kecil sampai dengan yang besar, dan sebagainya.

Pola Urutan Apresiatif
Mengungkapkan gagasannya berdasarkan, baik buruk, untung rugi, salah benar, berguna tidak berguna, dan sebagainya.

Pola Urutan Tempat
Dalam pola urutan tempat, mengungkapkan gagasannya mulai dari suatu tempat ketempat lainnya, misalnya dari atas ke bawah, dari dalam ke luar, dari kiri ke kanan, dan sebagainya. Urutan demikian dapat dikombinasikan dengan urutan berdasarkan tingkat pentingnya suatu tempat.

Pola Urutan Klimaks
Dalam pola urutan klimaks ini terkandung adanya intensitas yang semakin menaik. Mengungkapkan gagasannya dengan urutan yang setiap kali semakin meningkat intensitasnya, dan berakhir pada gagasan yang paling intens.

Pola Urutan Antikimaks
Pola urutan antiklimaks ini merupakan kebalikan dari pola urutan klimaks. Jadi, pola urutan antiklimaks ini berangkat dari suatu yang paling intens menuju ke yang intens sampai ke yang kurang intens.

Pola Urutan Khusus Umum
Dalam pola urutan khusus ke umum ini, mengungkapkankan gagasan-gagasan suatu hal yang khusus, kemudian diungkapkan keumuman atau rampatan generalisasinya.

Pola Urutan Sebab – Akibat
Mengungkapkan gagasannya bertolak dari suatu akibat atau efek terdekat dari pernyataan.

Pola Urutan Tanya – Jawab
Mengemukakan gagasannya dalam bentuk pertanyaan, kemudian diikuti dengan jawaban pertanyaan itu.

Paragraf penutup
Paragraf penutup biasanya berisi simpulan (untuk argumentasi) atau penegasan kembali (untuk eksposisi) mengenai hal-hal yang dianggap penting. Bisa berupa kesimpulan, penekanan kembali hal-hal yang penting, sarapan, dan harapan.

2.3.4 Berdasarkan letak kalimat utamanya, paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

Paragraf deduktif
Ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal paragraf dan dimulai dengan pernyataan umum yang disusun dengan uraian atau penjelasan khusus.

Contoh :

Kemauannya sulit untuk diikuti. Dalam rapat sebelumnya, sudah diputuskan bahwa dana itu harus disimpan dulu. Para peserta sudah menyepakati hal itu. Akan tetapi, hari ini ia memaksa menggunakannya untuk membuka usaha baru.

Paragraf induktif
Ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di akhir paragraf dan diawali dengan uraian atau penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum.

Contoh :

Semua orang menyadari bahwa bahasa merupakan sarana pengembangan budaya. Tanpa bahasa, sendi-sendi kehidupan akan lemah. Komunikasi tidak lancar. Informasi tersendat-sendat. Memang bahasa merupakan alat komunikasi yang penting, efektif dan efisien.

Paragraf campuran
Ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal dan akhir paragraf. Kalimat utama yang terletak diakhir merupakan kalimat yang bersifat penegasan kembali.

Contoh :

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat dilepaskan dari komunikasi. Kegiatan apa pun yang dilakukan manusia pasti menggunakan sarana komunikasi, baik sarana komunikasi yang sederhana maupun yang modern. Kebudayaan dan peradaban manusia tidak akan bisa maju seperti sekarang ini tanpa adanya sarana komunikasi.

2.3.5 Berdasarkan isinya, paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

Paragraf deskripsi
Ditandai dengan kalimat utama yang tidak tercantum secara nyata dan tema paragraf tersirat dalam keseluruhan paragraf. Biasanya dipakai untuk melakukan sesuatu, hal, keadaan, situasi dalam cerita.

Paragraf proses
Ditandai dengan tidak terdapatnya kalimat utama dan pikiran utamanya tersirat dalam kalimat-kalimat penjelas yang memaparkan urutan suatu kejadian atau proses, meliputi waktu, ruang, klimaks dan antiklimaks.

Paragraf efektif
Adalah paragraf yang memenuhi ciri paragraf yang baik. Terdiri atas satu pikiran utama dan lebih dari satu pikiran penjelas. Tidak boleh ada kalimat sumbang, harus ada koherensi antar kalimat.

2.4 Syarat – syarat Pembentukan dan Pengembangan Paragraf

Dalam pembentukan / pengembangan paragraf, perlu diperhatikan persyaratan-persyaratan berikut:

Kesatuan
Fungsi paragraf adalah untuk mengembangkan gagasan pokok tersebut. Uraian-uraian dalam sebuah paragraf diikat oleh satu gagasan pokok dan merupakan satu kesatuan dan tidak boleh ada unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan tersebut.

Kepaduan
yakni adanya hubungan yang harmonis, yang memperlihatkan kesatuan kebersamaan antara satu kalimat dengan kalimat yang lainnya dalam sebuah alenia. Untuk menyatakan kepaduan atau koherensi dari sebuah alenia, ada bentuk lain yang sering digunakan yaitu penggunaan kata atau frasa (kelompok kata) dalam bermacam-macam hubungan. Kata atau frase transisi yang dapat dipakai dalam karangan ilmiah sekaligus sebagai penanda hubungan.

Kelengkapan
Suatu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik utama.

Unsur-unsur paragraph

Dalam pembuatan suatu paragraf harus memiliki unsur unsur pembangun paragraf agar paragraf atau alinea dapat berfungsi dengan sebagaimana mestinya.

1. Gagasan utama atau gagasan pokok merupakan hal terpenting dalam pembuatan suatu paragraf agar kepaduan kalimat dalam satu paragraf atau alinea dapat terjalin sehingga bahasan dalam paragraf tersebut tidak keluar dari pokok pikiran yang telah ditentukan sebelumnya.
2. Kalimat utama atau pikiran utama, merupakan dasar dari pengembangan suatu paragraf karena kalimat utama merupakan kalimat yang mengandung pikiran utama. Keberadaan kalimat utama itu bisa di awal paragraf, diakhir paragraf atau pun diawal dan akhir paragraf.
3. Kalimat penjelas, merupakan kalimat yang berfungsi sebagai penjelas dari gagasan utama. Kalimat penjelas merupakan kalimat yang berisisi gagasan penjelas.
Judul (kepala karangan) menggambarkan keseluruhan paragraph.
2.5 Letak Kalimat Topik dalam Sebuah Paragraf

Gagasan pokok itu dituangkan ke dalam kalimat topik / kalimat pokok. Kalimat topik/kalimat pokok dalam sebuah paragraf dapat diletakkan, di akhir di awal, di awal dan akhir, atau dalam seluruh paragraf itu.

2.6 Pengembangan Paragraf

Salah satu cara berlatih mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan membuat kerangka paragraf dahulu sebelum menulis paragraf itu.

Secara ringkas, pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit dikembangkan, jangan pula terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar). Kedua, tempatkanlah kalimat topik tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas dalam sebuah paragraf. Ketiga, dukunglah kalimat topik tersebut dengan detail-detail/perincian-perincian yang tepat. Keempat gunakan kata-kata transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di antara paragraf.

2.6.1 Teknik (cara) mengembangkan paragraph

1. Secara Alamiah
Dalam teknik ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek/kejadian yang dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan, yaitu:

Urutan ruang (spasial)
Membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya yang berdekatan dalam sebuah ruang. Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, dari bawah ke atas dan sebagainya.

Urutan waktu (kronologis)
Menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.

2. Klimaks dan Antiklimaks
Gagasan utama mula-mula dirinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga gagasan yang paling tinggi kedudukan/kepentingannya

3. Umum – Khusus & Khusus – Umum (deduktif & induktif)
Cara pengungkapan paragraf yang paling banyak digunakan adalah cara deduktif dan induktif.

Ada paragraf yang berfungsi untuk menjelaskan, membandingkan, mempertentangkan, menggambarkan, atau memperdebatkan. Berikut ini akan dipaparkan bentuk-bentuk pengembangan paragraf berdasarkan fungsinya dalam suatu karangan.

4. Perbandingan dan Pertentangan
Untuk menambah kejelasan sebuah paparan, kadang-kadang penulis berusaha membandingkan atau mempertentangkan. Dalam hal ini penulis berusaha menunjukkan persamaan dan berbedaan antara dua hal. Syarat perbandingan/pertentangan adalah dua hal yang tingkatannya sama dan kedua hal itu mempunyai persamaan sekaligus perbedaan.

5. Analogi
Digunakan untuk membandingkan sesuatu yang sudah dikenal umum dengan hal yang belum dikenal, menjelaskan hal yang kurang dikenal.

6. Sebab – Akibat
Hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berbentuk sebab akibat. Dalam hal ini sebab dapat berfungsi sebagai pikiran utama, dan akibat sebagai pikiran penjelas, atau sebaliknya.

7. Definisi Luas
Untuk memberikan batasan tentang sesuatu, kadang-kadang penulis terpaksa menguraikan dengan beberapa kalimat atau bahkan beberapa paragraf.

8. Klasifikasi
Dalam pengembangan paragraf, kadang-kadang kita mengelompokkan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokan ini biasanya dirinci lebih lanjut ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.

 
Leave a comment

Posted by on July 12, 2013 in Uncategorized

 

Kalimat Efektif dan Tidak Efektif

Kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan; Dari segi liuistik kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa (KBBI, 2002 : 494).

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis /pembicara. Kalimat efektif juga merupakan kalimat yang padat, singkat, jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.

Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.

Ciri-ciri kalimat efektif, adalah:

a. Kesatuan gagasan
Kalimat efektif harus memiliki kesatuan gagasan dan mengandung satu ide pokok. Kalimat haruslah mengandung unsur subjek dan predikat sebagai unsur inti sebuah kalimat. Kehadiran unsur-unsur lain (objek, pelengkap, ataupun keterangan) hanyalah sebagai tambahan bagi unsur inti. Perhatikan contoh berikut ini:

“Di dalam keputusan ini merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.”

Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung oleh kehadiran subjek. “Di dalam keputusan ini” bukanlah subjek melainkan keterangan. Dengan demikian kalimat diatas diubah menjadi kalimat efektif menjadi : “Keputusan ini merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.”

b. Kesejajaran (Paralel)
Kesejajaran adalah penggunaan bentukan kata atau frasa berimbuhan yang memiliki kesamaan (kesejajaran) baik dalam fungsi maupun bentuknya. Jika bagian kalimat itu menggunakan verba berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- lagi.

Ciri-ciri kesejajaran

- Terdapat subjek dan predikat yang jelas

- Tidak terdapat subjek ganda

1) Kesejajaran bentuk

Jika dilihat dari segi bentuknya, kesejajaran itu dapat menyebabkan keserasian. Jika dilihat dari segi makna atau gagasan yang diungkapkan, kesejajaran itu dapat menyebabkan informasi yang diungkapkan menjadi sistematis sehingga mudah dipahami.

2) Kesejajaran makna

Kesejajaran makna ini berkaitan erat dengan penalaran. Penalaran dalam sebuah kalimat merupakan masalah yang mendasari penataan gagasan. Penalaran sangat berhubungan dengan jalan pikiran.

Sedangkan E. Kosasih menyatakan bahwa kesejajaran adalah penggunaan bentukan kata atau frase imbuhan yang memiliki kesamaan, baik dalam fungsi maupun bentuknya. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di- , bagian kalimat lainnya pun harus mengunakan di- pula.

Contoh :

Buku itu telah lama dicari, tetapi Dodi belum menemukannya.

Kalimat di atas tidak sejajar karena menggunakan bentuk kata kerja pasif (dicari) yang dikontraskan dengan bentuk aktif (menemukan). Maka kalimat diatas diubah menjadi sebagai berikut:

Buku itu telah dicari, tetapi belum ditemukan Dodi.

Dodi telah lama mencari buku itu, tetapi belum menemukannya.

c. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, frase, atau bentuk lainnya yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan ini menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Kehematan tidak berarti bahwa kata yang diperlukan atau yang menambah kejelasan makna kalimat boleh dihilangkan. Setiap kata haruslah memiliki fungsi yang jelas.

Contoh:

Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.

Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat diatas tidak perlu. Dalam kata mawar, anyelir, dan melati terkandung makna bunga. Setiap kata haruslah memiliki fungsi yang jelas dan tidak boleh menggunakan kata yang berlebihan. Penggunaan kata yang berlebihan justru akan mengaburkan dan memperlemah maksud kalimat itu. Kalimat yang benar adalah:

Mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.

d. Penekanan
Kalimat efektif harus diberi penekanan. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memberi penekanan itu adalah sebagai berikut :

1. Mengubah posisi dalam kalimat

Cara ini dilakukan dengan meletakkan bagian penting di depan kalimat.

Contoh : Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.

2. Menggunakan partikel

Penekanan pada bagian ini dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah.

Contoh : Saudaralah yang harus bertangung jawab dalam soal itu

3. Menggunakan repetisi

Yaitu dengan cara menulang-ulang kata yang dianggap penting

Contoh : Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan yang lainnya.

4. Menggunakan Pertentangan

Dengan cara menggunakan kata-kata yang bertentangan atau berlawanan makna / maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.

Contoh :

Anak itu tidak malas, tetapi rajin

e. Kelogisan
Unsur pembentuknya kalimat efektif harus memiliki hubungan yang logis atau dapat diterima oleh akal sehat. Susunan kalimat dianggap logis apabila kalimat itu mengandung makna yang bisa diterima akal dan bermakna sesuai dengan kaidah-kaidah nalar secara umum.

Contoh :

Waktu dan tempat saya persilakan.

Kalimat ini tidak logis / tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah menjadi:

Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.

Kalimat yang tidak efektif akan berpengaruh pada keakuratan informasi yang akan diterima. Berikut ini akan disampaikan beberapa pola kesalahan yang umum terjadi dalam penulisan serta perbaikannya agar menjadi kalimat yang efektif :

1. Penggunaan dua kata yang sama artinya dalam sebuah kalimat :

- Sejak dari usia delapan tahun ia telah ditinggalkan ayahnya.

(Sejak usia delapan tahun ia telah ditinggalkan ayahnya.)

2. Penggunaan kata berlebih yang ‘mengganggu’ struktur kalimat :

- Menurut berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum akan segera diubah.

(Berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum akan segera diubah. / Menurut berita yang saya dengar, kurikulum akan segera diubah.)

3. Penggunaan imbuhan yang kacau :

- Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan.
(Yang meminjam buku di perpustakaan harap mengembalikan. / Buku yang dipinjam dari perpustakaan harap dikembalikan)

4. Kalimat tak selesai :

- Rumah yang besar yang terbakar itu.

(Rumah yang besar itu terbakar.)

5. Penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku :

- Kita harus bisa merubah kebiasaan yang buruk.

(Kita harus bisa mengubah kebiasaan yang buruk.)

6. Penggunaan tidak tepat kata ‘di mana’ dan ‘yang mana’ :

- Rumah sakit di mana orang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih.

(Rumah sakit tempat orang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih.)

7. Penggunaan kata ‘daripada’ yang tidak tepat :

- Tendangan daripada Ricky Jakob berhasil mematahkan perlawanan musuh.

(Tendangan Ricky Jakob berhasil mematahkan perlawanan musuh.)

8. Pilihan kata yang tidak tepat :

- Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan waktu untuk berbincang bincang dengan masyarakat.

(Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan masyarakat.)

9. Kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti :

- Sopir Bus Santosa yang Masuk Jurang Melarikan Diri.

Judul berita di atas dapat menimbulkan salah pengertian. Siapa/apa yang dimaksud Santosa? Nama sopir atau nama bus? Yang masuk jurang busnya atau sopirnya?

(Bus Santoso Masuk Jurang, Sopirnya Melarikan Diri.)

10. Pengulangan kata yang tidak perlu :

- Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku setahun.
(Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku.)

11. Kata ‘kalau’ yang dipakai secara salah :

- Dokter itu mengatakan kalau penyakit AIDS sangat berbahaya.

(Dokter itu mengatakan bahwa penyakit AIDS sangat berbahaya.)

 
Leave a comment

Posted by on July 2, 2013 in Uncategorized

 

Wisata Air Terjun Lider

di malam yang cerah ini kayaknya asik nih kalo dibuat nulis-nulis di blog pribadi ini, oh ya gimana para bloger mania?? pastinya sehat doooongggg,,, :D. kali ini saya akan membahas tentang wisata air terjun lider, tempat ini terletak wilayah ujung timur di provinsi jawatimur yang berbetasan langsung dengan pulau bali. tempat ini tepatnya berada di perkebunan bayukidul kecamatan songgon kabupaten banyuwangi jawatimur, tapi jalan menuju kesana bisa di tempuh juga melalui desa sempu kecamatan genteng kabupaten banyuwangi, disana nantinya kendaraan bisa di titipkan ke tempat penitipan di wilayah perkampungan dekat lokasi, setelah itu jalan menuju lokasi dari tempat parkir ke air terjun kurang lebih sejauh 3km. di sepanjang perjalanan anda nantinya disuguhi pemandangan deretan pegunungan dan perkebunan tebu, aksesnya lumayan ekstrim tapi aman kok buat para pemula, saya jamin ketika anda sudah nyampe tempat airterjun rasa capek anda dalam perjalanan menuju lokasi akan terbayar lunas dengan pemandangan airterjun yang luar biasa, jika penasaran silakan langsung datang ke lokasi ajja

 
Leave a comment

Posted by on June 12, 2013 in Uncategorized

 

Cara membuat slideshow pada halaman blog

This slideshow requires JavaScript.


selamat malam sobat bloger, gk usah di tanyak kabar pasti sehatlah yaaaa ;)
nah, udah waktunya ini bagi-bagi ilmu lagi, malam ini saya akan membahas tentang bagaimana memberikan slideshow foto pada halaman blog, slideshow foto merupakan tampilan gambar yang dapat berubah-ubah gambarnya secara otomatis, seperti gambar di atas tersebut, gimana kerenkan?? hahaha :D
gk usah banyak bacot dah kita langsung aja bagaimana caranya
Berikut adalah cara memasang Slide Show Foto Pada Postingan WordPress . Cekidot ;)
Login ke WordPress kalian dulu .
.Kalo udah masuk di Dashbord . klik “Tulisan” lalu klik “Tambah baru”
-ingin tau lebih? lanjutdoonnggg->

 
1 Comment

Posted by on May 21, 2013 in Uncategorized

 

PILIHAN KATA (DIKSI)

1.1 PengertianDiksi

Diksi dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan Gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti “pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)”. Dari pernyataan itu tampak bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi kegiatan berbahasanya, termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan. Setiap kata memiliki makna tertentu untuk membuat gagasan yang ada dalam benak seseorang. Bahkan makna kata bisa saja “diubah” saat digunakan dalam kalimat yang berbeda. Hal ini mengisyaratkan bahwa makna kata yang sebenarnya akan diketahui saat digunakan dalam kalimat. Lebih dari itu, bisa saja menimbulkan dampak atau reaksi yang berbeda jika digunakan dalam kalimat yang berbeda.
-kalo masih penasaran, lanjut ajja>

 
Leave a comment

Posted by on May 16, 2013 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.